Recent Posts

Monday, August 8, 2016

Karakteristik Khas Pada Tunadaksa



Sumber Foto: https://www.scribd.com/doc/87913988/Anak-Tunadaksa

Pada postingan beberapa hari yang lalu sudah saya bahas tentang Jenis-Jenis Anak Berkebutuhan Khusus diantaranya adalah tunadaksa atau sebutan umumnya orang menyebut dengan orang cacat tubuh yang diartikan sebagai individu dengan gangguan fisik atau motorik atau mereka yang mengalami gangguan otot, tulang, sendi dan sistem persyarafan yang mengakibatkan kurang optimalnya fungsi komunikasi, mobilitas, sosialisasi dan perkembangan keutuhan pribadi. Pada kesempatan kita akan mengenal lebih jauh tentang karakteristik khas tunadaksa. Mari kita simak beberapa karakteristik khas pada tunadaksa  yang saya kutip dari Rachmayana (2016) diantaranya adalah sebagai berikut:

1.      Aspek Motorik
Gangguan motorik tampak dari aktivitas seperti berpindah tempat, bergerak dan berjalan
2.      Aspek Sensoris
Berupa kurang berfungsinya indra mata, telinga dan indera lainnya. Diantaranya terdapat juga yang mengalami mata juling.
3.      Aspek Persepsi
Gangguan pada kemampuan persepsi individu. Karena hal ini dipengaruhi oleh keutuhan indera dan proses pengolahan otak.
4.      Aspek Kognisi
Kelainan otak yang dialami oleh sebagian individu yang mengalami gangguan fisik dan motorik sangat mempengaruhi kemampuan kogisinya.
5.      Aspek Bicara
Keterbatasan dalam kemampuan berbicara dapat dipengaruhi oleh karena organ bicara yang mengalami kelumpuhan, dapat juga karena keterbatasan dalam pengolahan informasi menjadi bahasa sehingga individu yang mengalami gangguan fisik dan motorik dapat mengalami gangguan dalam perkembangan bicaranya.
6.      Aspek Emosi dan Penyesuaian Sosial
Respon dan sikap lingkungan mempunyai pengaruh yang dapt membentuk pribadi individu yang terganggu fisik dan motoriknya.

Adapun karakteristik khusus anak Cerebral Palsy (CP) menurut Assjari (1995) yaitu kelainannya terletak pada sistem syaraf pusat otak (otak dan sumsum tulang belakang). Kelainan yang terjadi diakibatkan oleh kerusakan pada sistem cerebral. Beberapa karakteristik dari anak CP terdiri atas:
1.      Gangguan Motorik
Gangguan motorik pada anak CP berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang tidak  dapat dikendalkan, gerakan ritmis, dan gangguan keseimbangan. Gangguan motorik yang lain pada anak CP berupa kesukaran berpindah tempat, bergerak, dan berjalan. Kesukarn bergerak, berpindah tempat, dan berjalan terjadi karena salah satu atau kedua kakinya lumpuh.
Dilihat dari aktivitas motorik, intensitas gangguan pada CP dikelompokkan atas: hiperaktif, hipoaktif dan tidak ada koordinasi. Kelainan hiperaktif sering ditandai dengan gerakan-gerakan yang berlebihan. Anak-anak hiperaktif tampak sebagai anak yang tidak pernah istirahat. Mereka berjalan, berlarian dan selalu berpindah tiada hentinya. Selalu gelisah dan tidak dapat berkonsentrasi pada satu objek.
Kelainan hipoaktif merupakan kelaianan dari hiperaktif. Ciri-ciri hipoaktif yaitu pendiam, gerakannya lamban dan kurang merespon rangsangan yang diberikan  kepadanya. Sedangkan tidak adanya koordinasi gerak terjadi karena adanya kekakuan pada anggota geraknya. Anak hipoaktif terkadang sulit untuk melakukan gerak yang lebih halus, seperti menulis, menggambar, dan menari.
2.      Gangguan Sensoris
Pusat sensoris manusia terletak pada otak. Adanya keusakan pada otak, seperti halnya pada anak Cerebral Palsy, sering juga ditemui yang menderita gangguan sensoris. Gangguan sensoris yang dimaksudkan yaitu kelainan penglihatan, pendengaran dan kemampuan kesan gerak dan raba.Gangguan penglihatan pada CP terjadi karena tidak seimbangan otot-otot mata sebagai akibat kerusakan otak. Bentuk kelainannya berupa juling, penglihatan gand, strabismus, nystagus, rabun, pandangan jauh (hyperopia), dan pandangan dekat (miopi). Gangguan pendengaran pada anak CP sering dijumpai pada jenis athetoid. Gangguan pendengaran pada anak CP terjadi karena anak sering mengalami kejang-kejang sehingga syaraf pendengaran tidak berfungsi baik.
3.      Tingkat Kecerdasan
Tingkat kecerdasan anak CP mempunyai renang tertentu mulai dari tingkat yang paing dasar, yaitu idioly sampai gifted. Sebagian CP sekitar 45% mengalami keterbelakangan mental dan 35% lagi memiliki tingkat kecerdasan sedikit di bawah rata-rata (Asjsjari, 1995).
4.      Kemampuan Persepsi
Selain mengalami kelainan motorik, anak CP juga mengalami kelainan persepsi Persepsi seseorang diperoleh melalui tahapan-tahapan. Tahapan pertama stimulus merangsang alat indera, berikutnya rangsangan tersebut diteruskan ke otak oleh syaraf sensoris dan pada akhirnya otak menerima, menafsirkan  dan menganalisis rangsang tersebut dan terjadilah peristiwa persepsi.
5.      Kemampuan Kognisi
Kognisi merupakan suatu proses interaksi yang dinamis antara individu yang telah matang dengan lingkungan yang terjadi secara terus menerus melalui persepsi dengan menggunakan media sensori (indra). Dalam proses tersebut terjadi pengenaln, pemahaman penghayatan dan interpretasi terhadap informasi lingkungan.
6.      Kemampuan Berbicara
Kebanyakan anak CP mengalami gangguan bicara. Gangguan bicara mereka disebaabkan oleh kelainan motorik otot-otot bicara dan ada pula yang terjadi karena kurang dan tidak terjadinya proses interaksi dengan lingkungan. Otot-otot bicara yang lumpuh atau kaku (spasm) seperti lidah, bibir dan rahang bawah akan mengganggu pembentukan artikulasi yang benar.
7.      Simbolisasi
Simbolisasi merupakan bentuk tertinggi dari kemampuan mental dan memerlukan konsentrasi secara abstrak. Proses pembentukan simbol dapat dikelompokkan dalam menerima dan menyampaikan fungsi kata dan gerakan. Simbol diterima melalui pendengaran dan penglihatan. Kesulitan dalam pendengaran dapat mempengaruhi ketidakmampuan menangkap ucapan-ucapan yang disampaikan dan tidak mengerti apa yang dibicarakan. Edangkan kesulitan dalam penglihatan mengakibatkan sesorang mengalami hambatan dalam menangkap isi pesan tertulis.

Demikian postingan saya kali ini, semoga adanya artikel ini dapat menambah pengetahuan kita tentang karakteristik khas tunadaksa. Terima kasih sudah membaca dan semoga bermanfaat.

Sumber Pustaka:
Assjari. 1995. Ortopedagogik Tunadasa. Proyek pengadaan Buku Ajar Bagi Perguruan Tinggi. Dikti. Jakarta.
Rachmayana, Dadan. 2016 Menuju Anak Masa Depan yang Inklusif. Luxima Metro Media. Jakarta Timur.

No comments: